Bel sekolah baru saja berbunyi. Anak-anak berlarian menuju halaman sambil membawa kotak bekal masing-masing. Suara tawa bercampur dengan aroma ayam goreng, sosis, dan nasi hangat memenuhi udara siang itu.
Di sudut kelas, Dimas membuka kotak bekalnya perlahan. Isinya sama seperti kemarin, nasi putih, tempe goreng, dan sedikit sambal. Ia menatapnya beberapa saat, lalu menutup kembali kotak itu dengan wajah kecewa.
Di meja sebelah, teman-temannya saling memperlihatkan bekal mereka.
"Aku bawa ayam!"
"Aku dibawain nugget sama Mama!"
"Weh, aku bawa udang!"
Dimas hanya tersenyum kecil, lalu menunduk. Hari itu ia lebih banyak minum daripada makan,bsesampainya di rumah, ia meletakkan tasnya dengan sedikit keras.
"Yah..."
Seorang laki-laki paruh baya keluar dari dapur sambil mengusap kedua tangannya yang masih basah.
"Besok jangan kasih tempe lagi."
Ayahnya tersenyum tipis.
"Memangnya kenapa?"
"Aku malu."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Rumah mendadak sunyi. Tidak ada bentakan. Tidak ada nasihat panjang. Sang ayah hanya mengangguk pelan.
"Baik." Satu kata itu menjadi akhir dari percakapan mereka sore itu.
Keesokan harinya, di dalam kotak bekal Dimas terdapat sepotong ayam kecil. Ia tersenyum puas. Teman-temannya memuji bekalnya, dan untuk pertama kalinya ia makan dengan lahap.
Namun, Dimas tidak pernah tahu bahwa pagi itu ayahnya hanya meminum segelas air putih sebelum berangkat bekerja.
Hari-hari terus berlalu. Kadang ayam, kadang telur, kadang sosis. Bekal Dimas semakin beragam. Ia mengira keadaan ekonomi keluarganya mulai membaik, padahal yang berubah bukan penghasilan ayahnya, yang berubah hanyalah isi piring ayahnya sendiri.
Waktu berjalan begitu cepat. Dimas lulus kuliah, memperoleh pekerjaan, dan mulai sibuk mengejar karier. Telepon dari ayah semakin jarang diangkat. Pesan-pesan singkat sering kali hanya dibalas dengan kalimat, "Nanti ya, Yah. Lagi kerja." Dan setiap kali itu pula, ayah hanya menjawab, "Iya, hati-hati."
Tak pernah ada keluhan, tak pernah ada tuntutan, hingga suatu sore, telepon itu datang. Bukan dari ayah, melainkan dari tetangga.
"Mas Dimas... Bapak..."
Kalimat berikutnya tak lagi terdengar jelas. Dunia seakan berhenti berputar. Untuk pertama kalinya, Dimas berharap waktu bisa berjalan mundur.
Beberapa hari setelah pemakaman selesai, rumah kembali sunyi. Dimas mulai membereskan barang-barang peninggalan ayahnya. Lemari tua, pakaian kerja yang mulai memudar warnanya, sepasang sepatu dengan sol yang hampir terlepas, dan sebuah buku kecil bersampul cokelat yang tersimpan rapi di sudut laci.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka halaman pertama.
Senin
> Bekal Dimas: Rp8.000
> Makan siang Ayah: ditunda.
Halaman berikutnya.
Selasa
> Bekal Dimas tambah ayam.
> Obat pegal belum dibeli.
Halaman berikutnya lagi.
Rabu
> Uang kurang.
> Tidak apa-apa.
> Yang penting Dimas jangan malu lagi.
Tangan Dimas mulai bergetar.
Ia membalik halaman demi halaman dengan napas yang semakin berat, tidak ada catatan tentang keinginan ayah membeli baju baru, tidak ada catatan tentang keinginan memiliki rumah yang lebih baik, tidak ada catatan tentang dirinya sendiri, semua halaman dipenuhi hal-hal sederhana yang selalu berhubungan dengan anaknya. Bekal sekolah, uang jajan, biaya buku, ongkos, dan berbagai cara agar Dimas tidak merasa berbeda dari teman-teman sebayanya.
Di halaman paling belakang terselip secarik kertas kecil, tulisan tangan ayah tampak mulai goyah, seolah ditulis ketika tenaganya tak lagi sekuat dulu.
"Kalau suatu hari Dimas membaca buku ini, berarti Ayah sudah tidak bisa lagi membuat bekal untukmu. Maaf ya kalau dulu sering memberi tempe. Bukan karena Ayah tidak ingin memberi yang lebih baik, tetapi karena saat itu hanya itu yang mampu Ayah usahakan. Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak yang kuat. Ayah selalu bangga padamu, bahkan ketika kamu belum sempat bangga memiliki Ayah."
Dimas memeluk buku kecil itu seerat-eratnya, tangisnya pecah bukan semata karena ayahnya telah tiada, melainkan karena ia baru menyadari bahwa selama ini ia selalu mengingat isi kotak bekalnya, sementara ayahnya... selalu mengingat isi perut anaknya.
Bertahun-tahun kemudian, setiap jam makan siang, Dimas sering melihat anak-anak sekolah berjalan sambil membawa kotak bekal di tangan mereka.
Ia selalu tersenyum, lalu diam-diam mengusap air matanya sendiri, kini ia mengerti... bahwa bekal paling berharga yang pernah ia bawa ke sekolah bukanlah ayam, telur, ataupun sosis, melainkan cinta seorang ayah yang setiap hari memilih pulang dalam keadaan lapar, agar anaknya tidak pernah merasa kekurangan.

Komentar
Posting Komentar