Kaina & Kiana

 


Pagi itu, rumah sudah lebih dulu dipenuhi suara-suara yang saling bertabrakan. Kaina hanya berniat membantu membereskan beberapa hal di rumah, tetapi sebuah kalimat pendek yang terlontar tanpa sengaja berubah menjadi percikan kecil. Ibunya memilih diam, sementara ayahnya menjawab dengan nada yang membuat udara terasa semakin sesak. Tidak ada pertengkaran besar, hanya beberapa kata yang cukup mengubah hangatnya pagi menjadi dingin.

Kaina tidak membalas. Ia tau, ada kalanya diam lebih baik daripada memperpanjang sesuatu yang tidak akan berakhir dengan saling memahami. Daripada terus berada di ruangan yang membuat dadanya terasa sempit, ia memilih melangkah ke dapur. Mungkin memasak bisa menjadi cara paling sederhana untuk menenangkan hati yang sedang berisik.

Ia membuka kulkas, mengambil beberapa ikat sayur bayam dan jagung yang masih segar, lalu mulai mencuci, memotong, dan menyiapkan bumbu. Bunyi pisau yang beradu dengan talenan menjadi satu-satunya suara yang terasa menenangkan pagi itu. Saat kuah mulai mendidih dan aroma bawang memenuhi dapur, perlahan suasana hatinya ikut menghangat.

Menjelang siang, semangkuk demi semangkuk mulai disiapkan. Namun meja makan tidak pernah benar-benar ramai. Ada yang berkata sudah kenyang, ada yang hanya mengambil minum lalu kembali ke aktivitasnya, dan ada pula yang bahkan tidak sempat melirik isi panci. Kaina hanya tersenyum tipis sambil menutup kembali tutup panci.

"Mungkin nanti malam," pikirnya.

Waktu terus berjalan. Matahari yang sejak tadi bersinar perlahan tenggelam di balik atap-atap rumah. Panci yang sejak pagi berada di atas kompor masih menyisakan banyak kuah. Hangatnya memang belum benar-benar hilang, tetapi harapan Kaina perlahan ikut mendingin.

Ia mengambil satu mangkuk, menuangkan sayur secukupnya, lalu duduk sendiri di ruang belakang. Kali ini tanpa nasi. Bukan karena sedang mengurangi makan, melainkan karena ia merasa sayang jika sayur yang dimasaknya sejak pagi harus berakhir sia sia di wastafel.

"Enak kok," gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Di tengah keheningan itu, langkah-langkah kecil terdengar mendekat.

"Kak..."

Kaina menoleh. Seorang gadis kecil berdiri di ambang pintu sambil membawa buku gambar. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena terlalu lama bermain.

"Makan apa?"

"Sayur."

"Mau coba."

"Yakin? Kamu kan ga doyan."

"Mau coba."

Kaina mengambil mangkuk kecil, menuangkan sedikit kuah beserta beberapa potong sayur. Kiana memandanginya beberapa detik sebelum akhirnya mencoba satu suap. Wajah mungilnya sempat mengerut, membuat Kaina hampir tertawa. Namun setelah itu, sendok kecil itu kembali terangkat. Lalu sekali lagi.

"Enak..."

Entah benar atau hanya ingin menyenangkan kakaknya. Yang jelas, satu kata sederhana itu terasa jauh lebih hangat daripada semangkuk sayur yang ada di hadapan Kaina.

Malam semakin larut, rumah kembali sunyi, Kaina membuka ponselnya sekilas. Seseorang yang ingin ia ajak berbagi cerita tampak sedang aktif, tetapi tidak ada satu pun pesan balasan yang datang. Ia menghela napas pelan, lalu mematikan layar ponselnya, mungkin tidak semua lelah memiliki tempat untuk pulang.

Tanpa aba-aba, air mata mulai jatuh. Awalnya hanya setitik, lalu tanpa sadar berubah menjadi isak yang tak lagi mampu ia tahan. Hari itu terasa terlalu panjang untuk dipikul sendirian.

Kiana yang sedang menggambar di lantai mendongak. Ia memandang kakaknya beberapa saat dengan wajah bingung.

"Are you cry?"

Kalimat itu terdengar lucu dengan tata bahasa yang belum sempurna. Biasanya Kaina akan tertawa mendengarnya. Namun malam itu, ia justru semakin menundukkan kepala. Tangisnya pecah.

Kiana tidak bertanya lagi. Mungkin karena ia memang belum mengerti mengapa orang dewasa bisa menangis hanya karena satu hari yang terasa terlalu panjang. Atau mungkin, di usianya yang baru menginjak delapan tahun, ia belum tau harus berkata apa.

Anak kecil itu hanya meletakkan pensil warnanya, berjalan mendekat, lalu menepuk pelan bahu kakaknya.

Puk.

Puk.

Puk.

Tanpa nasihat, tanpa pertanyaan, tanpa solusi.

Hanya tepukan kecil yang seolah berkata, "Aku memang belum mengerti semuanya, Kak. Tapi aku gamau kakak sedih sendirian."

Ternyata, manusia tidak selalu membutuhkan jawaban untuk setiap kesedihannya. Kadang, cukup ada satu orang yang memilih tetap tinggal di sampingnya ketika dunia terasa terlalu bising. Dan malam itu, bagi Kaina, orang itu adalah seorang perempuan kecil dengan tata bahasa yang belum sempurna, tetapi hati yang sudah tau cara memeluk seseorang tanpa harus mengucapkan banyak kata.

Komentar