Perempuan Berwarna Emas



Di sebuah negeri yang mengenal empat musim, hiduplah seorang gadis yang selalu membawa kehangatan ke mana pun ia pergi. Orang-orang tidak mengenalnya karena suara yang paling lantang atau langkah yang paling berani. Mereka mengenalnya karena setiap sore, ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya, rambutnya memantulkan warna keemasan seperti daun-daun musim gugur. Diam-diam, mereka menjulukinya Perempuan Berwarna Emas.

Ia tinggal di sebuah kota yang berjalan perlahan. Jalan-jalannya teduh, kedai teh kecil mengepulkan uap setiap pagi, dan di tepi hutan seekor rusa sesekali muncul, seolah sedang memastikan dunia masih menyisakan ketenangan. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk mengejar istana atau kemegahan. Ia hanya ingin menemukan tempat yang membuat dadanya tidak lagi terasa sesak.

Maka ia berjalan dari satu musim ke musim berikutnya. Di setiap langkahnya, ia selalu membawa semangkuk sup ayam hangat dan secangkir teh madu. Bukan karena takut lapar, melainkan karena ia percaya bahwa kehangatan sekecil apa pun layak dibagikan kepada dunia.

Kadang ia berhenti di bawah pohon pir yang sedang berbuah. Buahnya tidak semeriah bunga musim semi dan warnanya pun sederhana. Namun siapa pun yang sabar menunggu akan menemukan rasa manis yang lembut di dalamnya. Ia tersenyum kecil. Mungkin memang begitu cara hidup bekerja; yang paling berharga tidak selalu menjadi yang paling mencolok.

Suatu sore di musim gugur, ia duduk di bangku kayu sambil mendengarkan lagu kesayangannya. Angin meniupkan daun-daun kuning yang berputar perlahan di udara. Seekor rusa datang menghampiri, tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak memilih pergi. "Kenapa kamu mengikutiku?" bisiknya pelan. Rusa itu tidak menjawab. Ia hanya tetap tinggal, seolah mengerti bahwa ada pertemuan-pertemuan yang tidak membutuhkan bahasa untuk saling memahami.

Hari demi hari berlalu. Beberapa orang datang membawa tawa, sementara beberapa lainnya pergi membawa luka. Ada yang berjanji akan tinggal selamanya, tetapi menghilang sebelum musim berganti. Semua itu pernah membuatnya bertanya dalam hati, "Apakah aku terlalu mudah memberikan hatiku?" Tak ada yang menjawab. Hanya pohon-pohon gugur yang perlahan melepaskan daun-daunnya, bukan karena membenci apa yang pernah mereka miliki, melainkan karena percaya bahwa kehilangan bukanlah akhir dari kehidupan. Musim semi selalu menemukan jalannya.

Ketika malam tiba, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Ia menghabiskan teh hangatnya hingga tetes terakhir. Tidak ada keajaiban yang datang. Tidak ada luka yang seketika pulih. Langit pun tetap sama seperti biasanya. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memahami sesuatu. Selama ini ia mengira sedang mencari sebuah rumah, padahal yang ia cari adalah perasaan bahwa dirinya pantas memiliki rumah.

Ia pun berdiri, mengusap daun-daun yang menempel di roknya, lalu kembali melangkah. Bukan karena hidupnya telah menjadi mudah, melainkan karena ia akhirnya percaya bahwa tidak semua orang ditakdirkan menjadi matahari. Sebagian hadir sebagai secangkir teh hangat di sore musim gugur. Mereka mungkin tidak selalu menjadi yang paling terang, tetapi ketika dunia terasa dingin, merekalah yang paling dirindukan.

Komentar