Jumat Pukul Empat

 


"Beberapa orang hadir bukan untuk tinggal selamanya. Mereka hanya datang sebentar, lalu tanpa sadar mengubah cara kita memandang hidup."

Di ujung sebuah jalan tua yang mulai ditinggalkan orang-orang, berdirilah sebuah perpustakaan kecil bercat putih dengan jendela-jendela kayu yang mulai kusam dimakan usia. Bangunannya tidak besar, bahkan sering kali luput dari perhatian orang yang melintas. Namun, setiap kali pintunya dibuka, aroma buku-buku lama yang bercampur dengan wangi kayu dan teh hangat seolah menyambut siapa pun yang memilih masuk. Di tempat itulah Bu Ratna menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun perempuan berusia enam puluh tahun itu menjaga perpustakaan tersebut. Banyak orang bertanya mengapa ia masih bertahan di tempat yang nyaris selalu sepi. Bu Ratna hanya tersenyum, lalu menjawab dengan kalimat yang sama setiap kali.

"Karena buku selalu menunggu seseorang yang belum tahu kalau ia sedang membutuhkannya."

Tak ada yang benar-benar mengerti maksud kalimat itu. Namun, tak ada pula yang pernah membantahnya.

Hari-hari di perpustakaan berjalan nyaris serupa. Pagi digunakan untuk merapikan rak, siang mencatat buku yang dipinjam, dan sore menyeduh teh sambil menunggu waktu pulang. Tidak banyak pengunjung yang datang. Kadang hanya seorang anak kecil yang mencari buku cerita, seorang mahasiswa yang meminjam referensi skripsi, atau seorang pensiunan yang sekadar membaca koran lama sebelum kembali ke rumah.

Namun, ada satu hari yang selalu berbeda, Jumat tepat pukul empat sore.

Setiap hari Jumat, ketika cahaya matahari mulai menguning dan bayangan pepohonan memanjang di halaman perpustakaan, pintu kayu itu akan terbuka perlahan. Seorang pemuda dengan ransel hitam yang selalu tampak penuh buku melangkah masuk sambil mengusap debu tipis di sepatunya.

"Permisi, Bu." Suara itu selalu sama, tenang dan pelan.

Seolah takut mengganggu halaman-halaman buku yang sedang beristirahat.

Bu Ratna mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.

"Selamat sore, Raka."

Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Masih ada teh?"

Bu Ratna terkekeh pelan.

"Pertanyaanmu selalu sama setiap Jumat."

"Karena jawabannya juga selalu saya harapkan sama."

Perempuan itu berdiri dari kursinya, mengambil teko kecil yang masih mengepulkan uap, lalu menuangkan teh ke dalam dua cangkir. Yang satu ia letakkan di depan Raka, yang satu lagi tetap berada di hadapannya sendiri, tak pernah lebih dan tak pernah kurang.

Raka duduk di kursi kayu dekat jendela, tempat yang sama selama hampir tiga tahun terakhir. Dari sana ia bisa melihat daun-daun trembesi yang berguguran setiap kali angin sore datang. Anehnya, ia hampir tidak pernah langsung membuka buku yang dipinjamnya. Ia lebih sering memandangi halaman perpustakaan, menyeruput teh yang mulai mendingin, lalu berbincang ringan dengan Bu Ratna tentang hal-hal yang tampaknya tidak penting.

"Hari ini hujan sepertinya batal turun." sela Bu Ratna

"Padahal pagi tadi mendung."

"Kadang langit juga berubah pikiran."

Raka tersenyum kecil.

"Kalau manusia?"

Bu Ratna menutup bukunya perlahan.

"Lebih sering."

Setiap orang memiliki alasan mengapa mereka datang ke perpustakaan. Ada yang mencari ilmu, ada yang mencari ketenangan, ada pula yang sekadar ingin menghindari bisingnya dunia. Namun, selama hampir tiga tahun mengenal Raka, Bu Ratna tidak pernah sekali pun bertanya mengapa pemuda itu selalu datang pada hari dan jam yang sama, bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena ia percaya, setiap orang akan bercerita ketika hatinya sudah siap.

Raka bukan tipe pengunjung yang banyak berbicara. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan membalik halaman demi halaman buku yang dipinjamnya, lalu sesekali menatap ke luar jendela. Anehnya, setiap kali Bu Ratna memperhatikan, halaman yang dibacanya jarang benar-benar berpindah. Dalam satu jam, ia bisa berada di halaman yang sama.

"Bukunya membosankan?" tanya Bu Ratna suatu sore.

Raka menggeleng pelan.

"Bukan."

"Lalu kenapa dari tadi halamannya tidak berganti?"

Pemuda itu tertawa kecil, tawa yang terdengar ringan namun menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Saya cuma suka bau bukunya."

Jawaban itu membuat Bu Ratna ikut tersenyum.

"Kalau begitu, lain kali saya pinjamkan buku yang sampulnya sudah lebih tua."

"Kenapa?"

"Biasanya aromanya lebih kuat."

Mereka tertawa bersama.

Sore itu perpustakaan kembali dipenuhi kesunyian yang tidak terasa canggung, di sudut ruangan, sebuah jam dinding tua berdetak pelan.

Tik...

Tok...

Tik...

Tok...

Jam itu selalu terlambat lima menit, Raka pernah menyadarinya.

"Bu, jamnya rusak."

Bu Ratna menoleh sekilas.

"Iya."

"Ga diganti?"

Perempuan itu menggeleng sambil merapikan tumpukan buku di atas meja.

"Kasihan."

"Kasihan?"

"Ia sudah menemani perpustakaan ini lebih lama daripada saya."

Raka terkekeh.

"Itu kan cuma jam."

Bu Ratna berhenti sejenak, lalu menatap jam tua itu.

"Semua yang setia menemani, pantas diberi kesempatan bertahan sedikit lebih lama."

Entah mengapa, setelah mendengar kalimat itu, Raka memilih diam.

Tak lama kemudian, Bu Ratna kembali ke meja sambil membawa sepiring kecil biskuit.

"Ini buat teman minum teh."

Raka mengambil satu, lalu mengembalikannya lagi.

"Ga lapar?"

"Belum."

Padahal sejak pertama datang, perutnya beberapa kali berbunyi pelan, bu Ratna mendengarnya namun beliau tidak mengatakan apa-apa. Beliau hanya mendorong piring itu sedikit lebih dekat ke arah Raka, beberapa menit kemudian, tanpa sadar, biskuit itu habis satu per satu.

Menjelang pukul lima, Raka menutup buku yang bahkan belum selesai dibacanya, ia berdiri, merapikan kursi, lalu mengembalikan buku itu ke meja.

"Sudah selesai?"

"Belum."

"Lalu kenapa dikembalikan?"

"Saya akan baca lagi Jumat depan."

Bu Ratna mengangguk pelan, lalu mencatat sesuatu di buku peminjaman. Sebelum melangkah menuju pintu, Raka berhenti.

"Bu..."

"Iya?"

"Menurut Ibu..."

Ia menggantungkan kalimatnya cukup lama.

"...orang bisa benar-benar capek sama hidup, ga?"

Angin sore berembus pelan melewati jendela yang sedikit terbuka.

Daun-daun trembesi berguguran, jatuh satu per satu di halaman perpustakaan.

Bu Ratna tidak langsung menjawab.

Beliau menuangkan sisa teh ke dalam cangkirnya sendiri, menyeruputnya perlahan, lalu tersenyum tipis.

"Capek itu wajar."

Raka menatapnya lekat.

"Yang tidak wajar..."

Beliau berhenti sejenak.

"...adalah ketika seseorang merasa harus memikul semuanya sendirian."

Raka mengangguk pelan.

Tak ada jawaban lain.

Tak ada nasihat panjang.

Ia hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih seperti biasanya, lalu melangkah keluar.

Pintu kayu kembali tertutup, dan seperti setiap Jumat yang telah berlalu, Bu Ratna tetap berdiri beberapa detik di balik jendela, menunggu sampai bayangan Raka benar-benar menghilang di tikungan jalan.

Jumat selanjutnya, Raka datang sedikit lebih awal dari biasanya. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan senyumnya sedikit lebih lebar.

"Kelihatannya hari ini ada kabar baik," ujar Bu Ratna sambil menuangkan teh.

Raka mengangguk pelan. "Saya diterima kerja."

"Wah, selamat."

"Tapi saya belum tahu harus senang atau takut."

"Kenapa?"

Raka tersenyum kecil sambil memutar cangkir tehnya perlahan.

"Kadang yang kita inginkan, setelah benar-benar kita dapatkan, justru terasa asing."

Bu Ratna tidak langsung menanggapi. Beliau hanya mengangguk pelan, lalu berkata, "Tidak semua rumah langsung terasa nyaman saat pertama kali kita tempati. Ada yang perlu waktu sebelum akhirnya terasa seperti tempat pulang."

Raka tersenyum. "Ibu selalu bisa menjawab tanpa benar-benar menjawab."

"Karena tidak semua pertanyaan butuh jawaban. Kadang seseorang hanya ingin didengarkan."

Kalimat itu membuat Raka terdiam cukup lama.

Angin sore kembali meniup tirai tipis di dekat jendela. Daun-daun trembesi berjatuhan pelan, sementara jam dinding tua terus berdetak dengan selisih lima menit dari waktu sebenarnya.

Sebelum pulang, seperti biasa Raka merapikan kursinya. Namun kali ini ia tidak langsung melangkah ke pintu.

"Bu..."

"Iya?"

"Kalau suatu hari saya ga datang lagi..."

Bu Ratna tersenyum sambil menutup buku yang sedang dibacanya.

"Ya datanglah Jumat berikutnya."

Raka tertawa pelan. Tawa yang kali ini terdengar sedikit lebih lama.

"Iya ya..."

"Memangnya mau ke mana?"

"Ga ke mana-mana."

"Nah, berarti Jumat depan saya tetap bikinin teh."

Raka mengangguk.

"Jangan terlalu manis ya, Bu."

"Loh, bukannya dari dulu memang tidak terlalu manis?"

"Iya..."

Raka memandang cangkirnya beberapa detik.

"...saya cuma ingin memastikan rasanya tetap sama."

Bu Ratna mengernyit kecil, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kalau begitu, Jumat depan tetap dua sendok gula seperti biasa."

Raka berdiri, mengenakan kembali ranselnya, lalu melambaikan tangan sebelum keluar dari perpustakaan.

"Terima kasih, Bu."

"Sampai Jumat depan."

Pintu kayu menutup perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, entah mengapa Bu Ratna terus memandangi pintu itu lebih lama dari biasanya. Ada perasaan ganjil yang singgah sesaat, tetapi segera ia singkirkan. Mungkin hanya firasat seorang perempuan tua yang terlalu sering hidup dalam kesunyian.

Beliau merapikan dua cangkir teh di atas meja. Cangkir milik Raka masih menyisakan sedikit teh yang mulai dingin. Seperti biasa, tak ada yang tampak berbeda sore itu, setidaknya... begitulah yang Bu Ratna kira.

Jumat berikutnya datang seperti biasa, pukul empat kurang lima menit, Bu Ratna sudah selesai menyeduh dua cangkir teh. Aroma melati perlahan memenuhi ruangan yang lengang. Di luar, angin sore menggoyangkan dedaunan trembesi hingga beberapa helai jatuh tepat di depan pintu perpustakaan.

Jarum jam bergerak perlahan.

Empat kurang dua menit.

Empat tepat.

Pintu belum terbuka.

Bu Ratna melirik jam dinding tua di atas rak buku, lalu tersenyum kecil. Mungkin Raka terjebak macet, pikirnya. Sesekali memang pemuda itu datang lima atau sepuluh menit lebih lambat, meski tak pernah lebih dari itu.

Beliau kembali melanjutkan pekerjaannya, menyusun buku-buku yang baru dikembalikan ke rak semula. Sesekali matanya tetap melirik ke arah pintu, berharap terdengar suara engsel kayu yang sudah sangat akrab di telinganya.

Namun hingga teh di cangkir mulai kehilangan uapnya... Raka tak kunjung datang.

Sebelum perpustakaan ditutup, Bu Ratna membawa kedua cangkir itu ke dapur kecil di belakang ruangan. Cangkir miliknya kosong, sedangkan cangkir satunya masih utuh, hanya permukaannya kini dingin dan tenang, beliau menuangkannya ke wastafel tanpa banyak pikir.

"Mungkin Jumat depan," gumamnya pelan.

Jumat berikutnya.

Dua cangkir teh kembali tersaji di atas meja, kursi dekat jendela kembali dirapikan, buku yang terakhir dipinjam Raka masih tergeletak di sudut meja peminjaman. Bu Ratna sengaja tidak mengembalikannya ke rak. Entah mengapa, beliau merasa buku itu akan segera diambil pemiliknya.

Pukul empat lewat lima belas menit, belum ada siapa pun.

Lewat tiga puluh menit.

Perpustakaan tetap sunyi.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Bu Ratna pulang dengan membawa pulang satu pertanyaan yang tak sempat ia ucapkan.

"Semoga kamu baik-baik saja, Nak."

Jumat ketiga.

Hujan turun sejak siang, pengunjung yang datang hanya dua orang mahasiswa dan seorang anak kecil yang meminjam buku dongeng.

Bu Ratna tetap menyeduh dua cangkir teh.

Tetap merapikan kursi dekat jendela.

Tetap sesekali memandang pintu.

Dan tetap berharap.

Menjelang waktu tutup, seorang mahasiswa menghampiri meja peminjaman.

"Bu, boleh saya duduk di kursi dekat jendela?"

Bu Ratna menoleh ke arah kursi itu.

Untuk beberapa detik, beliau hanya memandanginya tanpa berkata apa-apa.

Lalu tersenyum tipis.

"Tentu saja."

Mahasiswa itu mengangguk dan segera duduk di sana.

Namun entah mengapa, Bu Ratna merasa ada sesuatu yang berbeda, bukan karena kursinya berpindah, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.. kursi itu ditempati oleh orang lain.

Beliau menarik napas panjang, lalu kembali menunduk menulis di buku peminjaman, di luar, hujan masih turun pelan, dan untuk pertama kalinya pula Bu Ratna tidak lagi yakin bahwa Raka akan datang Jumat berikutnya.

Musim berganti tanpa terasa.

Daun-daun trembesi yang dulu memenuhi halaman kini mulai tumbuh kembali. Rak-rak buku tetap berdiri di tempatnya, jam dinding tua masih terlambat lima menit, dan aroma teh melati masih memenuhi perpustakaan setiap Jumat sore.

Hanya satu hal yang berubah, kursi dekat jendela tak lagi memiliki pemilik tetap.

Sesekali ada pengunjung yang duduk di sana. Seorang mahasiswa, seorang ibu muda yang menemani anaknya membaca, bahkan seorang pria paruh baya yang tertidur sambil memeluk buku sejarah.

Namun, setiap kali kursi itu kosong kembali, Bu Ratna selalu tanpa sadar merapikan sandarannya, seolah sedang menyiapkannya untuk seseorang yang terlambat datang.

Beliau sendiri tidak pernah menyadari kebiasaan itu.

Suatu sore, saat sedang menyusun buku-buku yang baru dikembalikan, seorang anak kecil menghampirinya.

"Bu..."

"Iya?"

"Kenapa Ibu selalu bikin dua teh? Padahal Ibu sendirian."

Tangan Bu Ratna berhenti sejenak.

Beliau memandang dua cangkir di atas meja.

Lalu tersenyum pelan.

"Barangkali ada tamu."

Anak kecil itu ikut melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat.

"Tapi dari tadi nggak ada siapa-siapa."

"Iya."

"Terus buat siapa?"

Bu Ratna terdiam beberapa saat.

"Kadang..."

beliau menatap cangkir yang mulai kehilangan uapnya.

"...ada orang yang tetap kita siapkan tempatnya, meski kita tidak tahu apakah ia akan datang atau tidak."

Anak kecil itu mengangguk, meski jelas belum benar-benar mengerti, tak lama kemudian, ibunya memanggil dari luar, anak itu berlari pergi sambil melambaikan tangan.

Perpustakaan kembali sunyi.

Bu Ratna duduk di kursinya, membuka buku yang sejak tadi belum sempat ia baca. Namun baru beberapa halaman, pandangannya kembali teralihkan ke arah pintu.

Entah sudah berapa kali beliau melakukan hal yang sama, dan entah sudah berapa kali pula pintu itu tidak pernah terbuka.

Jumat berikutnya datang bersama langit yang mendung, hujan belum turun, tetapi angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun kering berputar di halaman perpustakaan sebelum akhirnya berhenti di dekat anak tangga.

Bu Ratna baru saja menuangkan teh ketika suara pintu perlahan terdengar.

Kreek...

Beliau spontan mengangkat wajah, senyumnya hampir muncul. Namun orang yang berdiri di balik pintu bukanlah Raka. Seorang perempuan muda memasuki perpustakaan dengan membawa map cokelat yang tampak mulai basah terkena gerimis. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya menyimpan keraguan.

"Permisi..."

"Iya, Nak. Ada yang bisa saya bantu?"

Perempuan itu melangkah mendekat.

"Saya mencari Bu Ratna."

"Saya sendiri."

Perempuan itu mengangguk pelan, lalu membuka map yang dibawanya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna krem. Nama "Bu Ratna" tertulis rapi di bagian depan dengan tulisan tangan yang sangat dikenal oleh perempuan tua itu.

Jantung Bu Ratna seakan berhenti sesaat.

"Itu..."

Perempuan tersebut mengulurkan amplop itu dengan kedua tangan.

"Ini titipan dari Kak Raka."

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Bu Ratna tersenyum lega.

"Syukurlah..."

bisiknya hampir tak terdengar.

"Saya kira dia benar-benar melupakan perpustakaan ini."

Beliau menerima amplop itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh. Ujung jarinya perlahan menyentuh lipatan kertas yang mulai kusut, tangannya baru saja hendak membuka segelnya, ketika perempuan itu tiba-tiba berkata pelan,

"Bu..."

Bu Ratna mengangkat wajah.

"Sebelum Ibu membaca surat itu..." perempuan tersebut menarik napas panjang.

"...ada satu hal yang harus Ibu ketahui."

Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Bahkan detak jam dinding tua seolah terdengar lebih keras dari biasanya, Bu Ratna menggenggam amplop itu semakin erat.

"Apa maksudmu, Nak?"

Perempuan itu menunduk.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia memberanikan diri menatap Bu Ratna.

"Hari Jumat itu..." suaranya bergetar.

"...Kak Raka sebenarnya tidak datang ke perpustakaan untuk meminjam buku."


---BESAMBUNG---

Komentar