Rumah yang Selalu Menyala



Di ujung sebuah gang kecil, berdiri sebuah rumah tua bercat hijau, rumah itu tidak menyeramkan, tidak ada suara aneh, tidak ada penampakan, tidak ada cerita hantu.

Namun ada satu hal yang membuat semua warga penasaran, lampu teras rumah itu selalu menyala, setiap malam tanpa pernah absen, padahal rumah itu sudah kosong bertahun-tahun.

"Siapa yang nyalain?" tanya anak-anak kampung.

Tak ada yang tahu.

Suatu sore, seorang gadis bernama Nara memutuskan mencari jawabannya. Nara baru pindah ke kampung itu dua bulan lalu dan ia tidak percaya takhayul, menurutnya pasti ada penjelasan logis.

Malam itu ia datang membawa senter, gerbang rumah tua itu ternyata tidak terkunci, halamannya dipenuhi rumput liar, pohon mangga tua berdiri di samping rumah.

Dan benar saja! Lampu terasnya menyala, kuning hangat seolah sedang menunggu seseorang pulang.

Nara memberanikan diri masuk, rumah itu berdebu, tetapi tidak berantakan, meja masih tertata, kursi masih rapi, bahkan ada kalender yang tergantung di dinding, kalender tahun 2018, sudah lama sekali.

Ia berjalan ke ruang tengah, lalu menemukan sebuah kotak kayu, di dalamnya terdapat puluhan surat, semua surat ditujukan kepada orang yang sama.

Untuk Ayah.

Nara duduk di lantai dan membaca salah satunya, tulisan tangannya masih terlihat rapi.

"Ayah, hari ini aku lulus kuliah, sayangnya Ayah tidak bisa melihatnya."

Nara membuka surat lain.

"Ayah, aku akhirnya diterima kerja."

Lalu surat berikutnya.

"Ayah, hari ini aku menikah."

Dan surat berikutnya lagi.

"Ayah, aku punya anak perempuan sekarang."

Semua surat berasal dari orang yang sama yang ditulis selama bertahun-tahun namun tidak pernah dikirim.

Keesokan harinya, Nara bertanya kepada warga sekitar, seorang nenek akhirnya bercerita, dulu rumah itu milik seorang pria tua yang tinggal sendirian, ia memiliki seorang anak perempuan, sangat dekat dan sangat akrab.

Namun suatu hari mereka bertengkar hebat, anaknya pergi merantau, mereka tidak pernah bertemu lagi, beberapa tahun kemudian, sang ayah meninggal  dan tidak lama setelah itu, anak perempuannya pulang.

Terlambat. Sangat terlambat.

"Terus lampunya?" tanya Nara.

Nenek itu tersenyum.

"Oh, itu."

"Kenapa?"

"Yang nyalain anaknya."

"Hah?"

"Setiap sore dia datang."

Nara terdiam.

"Dia tidak tinggal di rumah."

"Cuma nyalain lampu."

"Kenapa?"

Nenek memandang rumah hijau di ujung gang.

Lama.

Sangat lama.

Lalu menjawab pelan.

"Katanya supaya kalau ayahnya pulang, rumahnya tidak gelap."

Malam itu Nara berdiri di depan jendela kamarnya  dari kejauhan, lampu teras rumah hijau masih menyala, terasa hangat dan tenang.

Dan untuk pertama kalinya, Nara mengerti, kadang seseorang tidak menyalakan lampu karena takut gelap, kadang seseorang menyalakan lampu karena masih menyimpan rindu yang tidak sempat diucapkan.

Komentar