Pray for Sumatra

 


Kaira sudah menyiapkan semuanya sejak semalam, sweater favoritnya sudah dicuci dan disetrika. Hijab terbaiknya sudah digantung di lemari. Bahkan ia sudah membayangkan bagaimana hasil photobox mereka nanti.

"Pokoknya besok pake baju item ya!" Pesan itu sudah ia kirim sejak kemarin malam.

Algar membalas cepat. "Oke, aman aja"

Satu kalimat yang membuat Kaira percaya bahwa kali ini foto mereka akan sempurna.

Sampai akhirnya Algar menjemput Kaira di depan kost. Dunia seakan runtuh. Kaira menatap Algar yang masih diam diatas motor, Algar menatap balik, dan.. diam.

Kaira menarik napas panjang. Di depan matanya, Algar berdiri gagah menggunakan kaos hitam bertuliskan besar:

PRAY FOR SUMATRA

"..."

"..."

"..."

"Kamu serius?" tanya Kaira.

"Iya."

"Kamu serius?"

"Iya."

"KAMU SERIUS???"

Algar menunduk melihat bajunya.

"Kenapa?"

Kaira sudah membayangkan foto aesthetic. Foto lucu. Foto yang bisa dipamerkan diam-diam ke teman-temannya. Tapi sekarang? Mereka akan terlihat seperti pasangan yang sedang kampanye sosial.

"Hadeh..." Kaira memejamkan mata. "Yaudah. Gausah foto deh nanti."

Wajah Algar langsung berubah.

"Yaudah kalo gitu aku ganti sandal aja, ngapain repot repot pake sepatu!"

"LAH ITU BUKAN INTI MASALAHNYA!" teriak Kaira dalam hatinya.

Tapi Algar sudah keburu kesal.

Dan perjalanan menuju coffeeshop favorite mereka berubah menjadi perjalanan paling sunyi dalam sejarah hubungan mereka.

Motor melaju.

Kaira memandang jalan.

Algar memandang jalan.

Angin bertiup.

Tapi tak satu pun dari mereka berniat mengalah lebih dulu.

Sesampainya di parkiran, keduanya turun dari motor, masih diam, masih kesal, masih gengsi. Sampai akhirnya Algar berjalan di samping Kaira sambil menahan senyum.

"Kenapa sih kamu ga suka aku pake baju ini?"

Kaira langsung berhenti.

"YA LAGIAN AKU UDAH BILANG DARI KEMARIN BIAR PREPARE!"

"Iya..."

"AKU UDAH PREPARE!"

"Iya..."

"MASA PAKE BAJU ITU??"

Algar malah nyengir.

"Yang bersih cuma itu."

Kaira menatapnya.

Algar menatap balik.

Lalu tertawa.

Dan sialnya, Kaira hampir ikut tertawa juga.

Mereka akhirnya makan bersama.

Suasana perlahan mencair.

Meski sesekali Kaira masih melirik kaos Pray for Sumatra itu dengan tatapan penuh pengkhianatan, sampai tiba-tiba Algar mengangkat sendok berisi makanan.

"Nih."

Kaira langsung menggeleng.

"Gamau."

"Ayolah."

"Gamau."

Algar menghela napas.

Lalu berkata santai, "Masa kamu ga kangen aku suapin?"

DEG, dunia kembali berhenti, kali ini bukan karena marah, Kaira langsung menunduk, jantungnya berdetak terlalu cepat.

Bodohnya, satu kalimat sederhana itu berhasil menghancurkan seluruh benteng pertahanan yang ia bangun sejak pagi.

"Jangan ngomong gitu ah."

Suaranya pelan, sangat pelan, karena jika tidak, ia takut ketahuan kalau matanya mulai panas.

Setelah makan mereka masuk photobox, berpose, tertawa, saling mengejek hasil foto, lalu berjalan ke taman sekitar kota.

Sudah lama mereka tidak mengobrol tentang banyak hal, tentang kuliah, tentang masa depan, tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa penting untuk mereka.

Dan saat malam mulai turun, Kaira akhirnya bertanya pelan.

"Kamu masih sayang aku?"

Algar menoleh.

"Masih."

"Serius?"

"Serius."

"Serius banget?"

"Serius banget."

"Kalau nanti?"

"Masih."

"Kalau besok?"

"Masih."

"Kalau tahun depan?"

"Masih."

Kaira menatapnya curiga.

"Kalau tua?"

Algar tertawa.

"Lah itu malah makin sayang."

Komentar