Malam itu hujan deras.
Raka pulang dari kantor hampir pukul sebelas malam, jalan desa yang biasa ia lewati tampak sepi, hanya ada lampu jalan yang berkedip dan suara jangkrik yang bersahutan.
Saat melewati halte tua di pinggir sawah, ia melihat seorang perempuan berdiri sendirian.
Gaun putih, rambut panjang, kepala tertunduk.
Raka langsung merinding.
"Astaghfirullah.. astaghfirullah.."
Ia mempercepat langkah, namun saat menoleh ke belakang, perempuan itu masih berdiri di sana, tidak bergerak.
Besoknya kabar itu menyebar ke seluruh kampung.
"Ada hantu perempuan di halte."
"Aku juga lihat."
"Jam sebelas malam kan?"
"Iya!"
Dalam seminggu, cerita itu semakin besar, orang-orang mulai menghindari jalan tersebut, bahkan ada yang mengaku mendengar suara tangisan perempuan saat lewat, dan Raka tidak pernah berani lewat sana lagi.
Sampai suatu malam ia terpaksa pulang larut, jalan alternatif sedang ditutup, mau tidak mau ia harus melewati halte itu.
Dan benar sajan Perempuan itu ada lagi, berdiri di tempat yang sama, hanya diam dan menunduk.
Kali ini Raka memberanikan diri, dengan tangan gemetar ia mendekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, perempuan itu tetap diam.
Semakin dekat, semakin dekat, sampai akhirnya perempuan itu mengangkat kepala dan berkata pelan.
"Tolong."
Raka membeku.
"Tolong saya."
"Itu dia."
"Dia datang lagi."
Perempuan itu menunjuk ke arah belakang Raka, perlahan Raka menoleh, di bawah cahaya lampu jalan yang redup berdiri seorang pria tua.
Tersenyum, membawa payung hitam.
Raka tidak mengenalnya, namun entah kenapa bulu kuduknya berdiri, pria itu melangkah mendekat, perempuan di samping Raka mulai menangis.
"Dia yang membunuh saya."
Jantung Raka berhenti sesaat.
Pria tua itu masih tersenyum.
Lalu berkata,
"Jangan dengarkan dia."
"Dia memang suka mengarang cerita."
Malam itu Raka lari sekuat tenaga, esok paginya ia mendatangi kantor polisi, ia menceritakan semuanya, semua orang menganggapnya gila, sampai seorang polisi tua mendadak pucat saat mendengar lokasi halte tersebut.
Tiga puluh tahun lalu.
Seorang siswi SMA ditemukan tewas di sawah dekat halte itu, pelakunya tidak pernah ditemukan, kasusnya ditutup, mamun ada satu hal yang membuat polisi tua itu gemetar.
Saat Raka menggambarkan wajah pria yang ditemuinya malam itu, wajahnya sama persis dengan foto tersangka utama kasus tersebut, masalahnya, pria itu sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu.
Tiga hari kemudian polisi membuka kembali berkas lama, mereka menemukan sesuatu yang selama ini terlewat, sejumlah bukti yang sengaja disembunyikan, nama saksi yang dihilangkan, dan tanda tangan penyidik yang dipalsukan.
Kasus itu ternyata ditutup bukan karena kekurangan bukti, melainkan karena seseorang sengaja melindungi pembunuhnya.
Orang itu bukan hantu, bukan iblis, bukan makhluk gaib, melainkan manusia-manusia yang memilih diam. Dan saat berita itu akhirnya terungkap ke publik, warga kampung baru sadar satu hal.
Selama tiga puluh tahun mereka takut kepada perempuan yang berdiri di halte. Padahal yang seharusnya mereka takuti sejak awal adalah orang-orang yang membuat kematiannya tidak pernah mendapatkan keadilan.

Komentar
Posting Komentar