Kau datang membawa seribu cara
untuk membuatku percaya.
Kau yang mengetuk pintu itu,
kau yang meyakinkanku
bahwa aku pantas dicintai.
Dan aku percaya.
Dengan bodohnya,
dengan tulusnya,
aku percaya.
Namun setelah aku membuka pintu,
kau justru berjalan ke mana-mana.
Mencari wajah baru,
mencari cerita baru,
sementara aku tetap berdiri
di tempat yang sama.
Menunggumu pulang.
Aku memaafkan.
Lalu memaafkan lagi.
Sampai aku lupa
berapa banyak luka
yang kututup sendiri.
Lucunya,
orang yang paling takut kehilanganmu
selama ini adalah aku.
Sedangkan orang yang seharusnya takut kehilanganku,
justru selalu yakin
bahwa aku akan tetap tinggal.
Dan memang benar.
Aku selalu tinggal.
Sampai hari ini.
Hari ketika aku akhirnya lelah
menjadi rumah bagi seseorang
yang tak pernah benar-benar ingin menetap.

Komentar
Posting Komentar