Langit yang Tak Pernah Bertanya



Malam itu, langit tak menanyakan apa apa. Ia hanya diam, membentang tanpa suasana, apalagi tuntutan.

Aku duduk dibalik jendela, memeluk cangkir hangat yang perlahan kehilangan uapnya. Hari ini masih sama seperti kemarin, penuh dengan rutinitas yang aku lalui dengan sedikit senyum palsu. Aku menunduk lesu, bertanya pada diriku sendiri, “Sejak kapan aku menutup pintu pada dunia? Atau bahkan.. pada diriku sendiri?”

Kadang aku iri pada langit, ia bisa terlihat begitu luas, padahal kosong, ia juga bisa terlihat begitu damai, padahal banyak menyimpan badai. Tapi ia tak dituntut untuk menjelaskan kepada dunia mengapa ia kelabu hari ini.

Sementara aku? Aku harus terlihat kuat agar orang orang disekitar ku tak khawatir. Aku harus tetap terlihat baik baik saja meski ada sesak didalam dada. Bahkan aku harus terus berjalan walaupun lututku sudah bergetar menahan beban yang kubawa kemana mana.

Tapi malam ini, aku ingin berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk duduk dengan diriku sendiri. Untuk mengakui bahwa aku ini lebih dari lelah. Untuk mengakui bahwa aku ini sedang tidak baik baik saja. Dan untuk mengakui bahwa aku juga butuh pelukan hangat, walau hanya oleh pikiranku sendiri.

Dan ditengah malam yang tenang ini, aku mulai menyadari satu hal..

Langit tak akan pernah bertanya apakah aku sanggup, tapi ia selalu ada, selalu menemani dalam diam. Dan ternyata itu lebih dari cukup.


Komentar