Langit di Atas Asrama Itu



Sore itu, langit sedang tenang. Tidak hujan, tidak mendung. Hanya matahari yang mulai meredup perlahan. Kami sedang sholat ashar berjamaah di masjid yang berada di barat asrama. Rakaat ketiga baru saja selesai, namun bumi tiba tiba berguncang.

Langit langit masjid mulai bergetar, jendela mengeluarkan suara suara retakan. Suara gemuruh terdengar dari arah asrama utama, tempat sebagian teman kami yang beristirahat.

Semua terjadi begitu cepat, ada yang menjerit, ada yang diam dalam gemetar, dan ada yang seperti aku, berdiri terpaku tak sempat menyelesaikan doa terakhir. Aku tidak ingat teriakan siapa yang paling dulu kudengar, yang aku tau.. temanku menggenggam erat bajuku, sebelum ia hilang dalam debu.

Tiga hari setelahnya, aku kembali berdiri di halaman yang tak lagi berwujud. Buku buku yang biasa kami baca saat menuntut ilmu tergelak di tanah, papan nama asrama terbelah dua, peci peci berserakan, sajadah tertimbun batu bata.

Semua terasa sunyi, bukan karna sepi, tapi karna terlalu banyak suara yang hilang. “Ruang makannya dimana ya?” tanya seorang relawan padaku. Aku hanya diam, tak ada yang bisa ku ucapkan, ingin menjawab tapi entah harus menunjuk kearah mana. Ruang makan itu... sudah tidak ada.

Malam hari, kami tidur di tenda darurat, angin bisa masuk dari mana saja, tapi tidak sedingin rasa kehilangan yang tiba tiba mengendap didalam dada. Teman kamarku, Sahira, menatap kosong ke langit langit tenda.

Kenapa ya, tempat yang dipenuhi dengan irama Al Quran bisa runtuh juga?” bisiknya. Aku membisu tak dapat menjawab, bukan karna aku tidak tau, tapi karna ada pertanyaan pertanyaan yang memang tidak perlu dijawab, hanya perlu diikhlaskan.

Besoknya kami mulai mengaji lagi, bukan di masjid maupun musholla, melainkan di terpal biru yang dibentang seadanya. Ustadzah kami memgajarkan kami satu ayat yang kini terasa berbeda,

Fainna Ma'Al Usri Yusro”

“Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan

Tanganku bergetar, bukan karna takut, melainkan merasa ayat itu datang diwaktu yang tepat. Kami mungkin kehilangan bangunan, tapi kami tidak kehilangan harapan. Kami mungkin kehilangan ruang, tapi kami tidak kehilangan arah.

Dan malam itu, aku menatap langit diatas tempat yang dulu kami sebut asrama. Langit yang masih sama.. tapi kini terasa jauh lebih dekat.


Komentar