Korelasi Sastra dan Budaya dalam Medium Dakwah



Rabu, 28 Agustus 2024 Program Studi Manajemen Dakwah telah menyelenggarakan sebuah seminar kebudayaan dengan tema ”Korelasi Sastra dan Budaya dalam Medium Dakwah”. Acara ini diadakan di Auditorium Lantai 6 Gedung Arief Mustaqim UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, budayawan, hingga masyarakat umum yang tertarik dengan isu-isu kebudayaan dan dakwah.

Seminar ini menghadirkan dua pemateri yang kompeten di bidangnya, yaitu:

1. Wawan Susetya

Beliau merupakan seorang akademisi dan penulis yang memiliki kepakaran dalam kajian sastra dan budaya yang berasal dari Boyolangu, Tulungagung. Dalam sesi pertama, Bapak Wawan Susetya membahas tentang bagaimana karya-karya sastra tradisional dan modern dapat menjadi medium efektif dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Beliau menekankan pentingnya memahami konteks budaya dalam penyampaian dakwah agar pesan yang disampaikan lebih relevan dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Kebudayaan mencakup nilai, norma, tradisi, dan kebiasaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, sedangkan dakwah adalah upaya menyebarkan ajaran agama, khususnya Islam, kepada orang lain.

Dakwah dalam konteks kebudayaan sering kali harus disesuaikan dengan kondisi budaya setempat agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Pendekatan dakwah yang sensitif terhadap kebudayaan setempat dapat memperkuat penyebaran nilai-nilai agama tanpa mengganggu atau merusak tradisi dan nilai budaya yang sudah ada. Sebaliknya, pengabaian terhadap aspek kebudayaan dalam dakwah dapat menimbulkan resistensi atau penolakan dari masyarakat.

Selain hal tersebut, Bapak Wawan Susetya juga membahas mengenai kekuatan menulis. Sebagai pemuda belajarlah menulis, hal tersebut bisa dimulai dengan menulis kegiatan sehari-hari ataupun hal yang kita sukai.

Kesimpulannya, pemahaman mendalam tentang kebudayaan sangat penting dalam kegiatan dakwah. Dakwah yang memperhatikan dan menghargai kebudayaan setempat lebih mungkin berhasil dalam menyebarkan nilai-nilai agama dan mencapai tujuan yang diharapkan.

2. Ki Dalang Sukron Suwondo

   Beliau adalah seorang dalang ternama yang telah lama berkecimpung dalam dunia seni pertunjukan wayang sebagai media dakwah. Dalam sesi kedua, Ki Dalang Sukron Suwondo memaparkan bagaimana seni tradisional, khususnya wayang, dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan ajaran agama. Melalui cerita-cerita wayang, beliau menunjukkan bahwa sastra dan budaya dapat bersinergi dalam menyampaikan pesan dakwah yang mendalam dan menyentuh hati audiens.

Pertunjukan wayang merupakan media dakwah yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah,karena disamping mengandung banyak pelajaran wayang mampu berbaur untuk semua kalangan.Wayang dijadikan sebagai media dakwah karena merupakan kesenian tradisional yang paling digemari oleh masyarakat. Selain itu juga merupakan alat tradisional yang juga mempunyai peranan alat pendidikan werta komunikasi langsung dengan masyarakat yang dipandang efektif dapat dimanfaatkan untuk penyiaran agama islam.

Kesimpulannya, Wayang selain sebagai seni pertunjukan tetapi juga sangat membantu dalam seni dakwah terutama dalam hal yang berkaitan tentang agama dan wayang bisa dimanfaatkan sebagai pelestarian kebudayaan.

Acara seminar ini berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kepada para pemateri. Banyak peserta yang antusias memberikan tanggapan dan berbagi pengalaman mengenai peran sastra dan budaya dalam dakwah di lingkungan masing-masing.

Seminar ditutup dengan kesimpulan bahwa korelasi antara sastra dan budaya dengan dakwah merupakan aspek penting yang dapat memperkaya cara penyampaian pesan-pesan moral dan keagamaan. Para peserta diharapkan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dari seminar ini dalam aktivitas dakwah di komunitas mereka ataupun secara pribadi.

Komentar